Pada pertengahan bulan agustus tahun ini, PUSPALA atau
Puspanegara Pecinta Alam mengadakan ekspedisi ke gunung tertinggi nomor tiga di
Indonesia. Rinjani, sebuah gunung dengan ketinggian 3726 meter dari permukaan
laut yang menjulang tinggi di tengah pulau lombok.
Ekspedisi kali ini dilakukan oleh 4 orang alumni SMA 5
Yogyakarta yang dulunya mengikuti ekskul PUSPALA dan dua orang yang bukan
anggota puspala. Sekedar informasi, di PUSPALA meskipun sudah lulus tidak ada
kata mantan puspala. Karena selamanya tetap menjadi anggota puspala.
Perjalanan di mulai pada tanggal 14 agustus 2013 dari
stasiun lempuyangan kami melesat menuju stasiun banyuwangi. Kemudian perjalanan
dilanjutkan dengan menyeberangi pulau bali dan sampailah di pulau lombok.
Sekitar sore hari tanggal 15 agustus 2013 kami tiba di basaecamp pendakian
gunung rinjani di kecamatan sembalun.
Di sini kami melakukan registrasi dan
menginap semalam di halaman basecamp untuk mempersiapkan fisik guna melakukan
pendakian esok harinya.
16 agustus 2013, pendakian di mulai. Kami menarget untuk
sampai di pos 3 saja untuk bermalam di sana dengan pertimbangan setelah pos 3
medan yang di lalui cukup berat hingga camp terakhir sebelum puncak. Pendakian
menuju pos 3 ini merupakan perjanan terpanas yang pernah kami lakukan. Karena
dikanan kiri tidak ada pepohonan yang menutupi jalan. Hanya ada semak belukar
sepanjang jalan hingga pos 3.
Ke esokan harinya perjalanan dimulai dari pos 3 menuju
plawangan sembalun atau camp terakhir sebelum summit attack. Pendakian gunung
mulai terasa beratnya dari titik ini. karena hampir tidak ada jalan landai
sampai di plawangan sembalun. Hingga tanjakan terakhir yang sering disebut
tanjakan penyesalan membuat kami terseok-seok untuk melewatinya. Sungguh
tanjakan yang membuat mental patah. Namun ketika mata melihat ke belakang,
seakan mental dan semangat pun tumbuh lagi. Pemandangan luar biasa yang
disajikan rinjani membuat semua orang dari penjuru dunia ingin menikmatinya.
Selesai melewati tanjakan penyesalan, sampailah kita di
plawangan sembalun. Sebuah tempat yang agak lapang untuk berkemah. Disini
ternyata sudah banyak puluhan bahkan ratusan pendaki yang lebih dulu sampai di
sini. Mungkin karena hari ini adalah hari kemerdekaan republik ini.
Dini hari kami bangun untuk bersiap melakukan summit attack.
Mengingat jalan yang dilalui sangat jauh, karena di plawangan sembalun sendiri
ketinggiannya sekitar 2600an meter dan puncak 3726 meter berati kita harus
berjalan vertikal kurang lebih 1000 meter untuk sampai di puncak.
Dari punggungan sebelum puncak, terlihat bendera merah putih
berkibar dengan gagah di puncaknya. Menambah semangat dan mental yang hampir
putus di setiap tanjakan yang seakan mem-php kami. Tanjakan yang kami kira
sudah berakhir ternyata masih ada tanjakan yang tertutup oleh bukit-bukit
kecil.
Karena sulitnya medan yang harus di daki menuju puncak dan
ada seorang anggota kami yang sakit, hanya ada dua orang dari tim Puspala yang
berhasil menikmati sunrise di puncak. Pukul 9 wita tanggal 18 agustus 2013 kami
bersemua berhasil berkumpul di puncak rinjani, 3726 mdpl. Sebuah pengalaman
yang luar biasa bisa berdiri di tanah tertinggi nomor 3 di Indonesia. Terlihat
di arah barat Gunung Agung di Bali yang seolah menyambut kedatangan kami.
Melihat kebawah, birunya segara anakan siap menyambut di perjalanan pulang.
Juga hamparan sabana berwarna hijau laksana karpet yang menutupi kaki gunung
rinjani.
Setelah cukup beristirahat, segera kami mengibarkan bendera
Puspala di puncak rinjani. Tak lupa kami nyanyikan mars Puspanegara di puncak
tertinggi ke 3 ini. kebanggaan luar biasa kami sebagai Puspalawan dan
Puspalawati mampu mengibarkan dan menyayikan lagu SMA 5 yogyakarta tercinta
kami. Mungkin bukan sebuah prestasi berupa piala ataupun kejuaraan yang dapat
kami berikan saat ini.
Tiba-tiba terdengar lagu Indonesia dari dekat bendera,
ternyata ada beberapa orang yang mungkin ‘terlambat’ upacara kemerdekaan
melakukan upacara sendiri. Mungkin karena jiwa tonti Pascagara masih tertanam
di hati penulis, tiba-tiba saja penulis ikut berdiri dan hormat kepada sang
merah putih. Dan ini upacara bendera terhebat yang pernah saya ikuti.
Benar-benar khidmat meskipun terlambat dan tak berseragam seperti waktu SMA
dulu. Menjadi sebuah kebanggan sendiri bisa mengikuti upacara di puncak seperti
ini. dengan tulisan PUSPANEGARA di punggung kami menunjukan ke semua orang kalu
kami (Puspanegara) pernah di sini. Puncak tertinggi ke 3 di Indonesia (sombong
sithik).
Jam 10.30 wita kami turun dari puncak karena sudah terlalu
panas di puncak. Perjalanan turun ternyata hanya memakan waktu 2 jam saja.
Tidak sebanding dengan sewaktu naik yang membutuhkan waktu 6,5 jam.
Sepanjang jalan kami hanya terkagum-kagum dengan keindahan
alam rinjani ini. sebentar-sebentar kami berhenti menikmati keindahan alam yang
di ciptakan Tuhan kepada manusia. Dari kejauhan terlihat pesawat terbang
melintasi di dekat gunung yang lebih rendah dari kedudukan kami.
Setelah sampai di camp plawangan sembalun, kami segera makan
siang dan packing untuk segera turun ke danau segara anakan yang dari atas
terlihat sangat mempesona. Perjalanan dari plawangan sembalun menuju segara
anakan memakan waktu 4,5 jam menuruni tebing yang lumayan curam dan menembus
awan.
Menjelang maghrib akhirnya kami sampai danau segara anakan
dan kami segera mendirikan tenda dan segera bersiap untuk mandi air panas di
dekat danau. Tapi tiga orang tinggal di tenda dulu untuk bergantian berjaga.
Karena kebaikan tetangga sebelah tenda kami dan karena modal sok akrab dengan
mereka, kami di beri ikan hasil pancingan mereka tadi siang. Gak
tanggung-tanggung kita dikasih 10 ekor. Dan malam ini akhirnya kita bisa makan
ikan goreng gratis di gunung.
Di danau kami hanya semalam dan ke esokan paginya setelah
selesai foto-foto kami langsung packing dan bersiap turun gunung. Karena
pertimbangan waktu akhirnya kami memutuskan untuk kembali melalui jalur
sembalun lagi. Jalur sembalun menurut orang sekitar lebih aman untuk perjalanan
malam karena tidak melewati hutan.
Di rinjani inilah sebelum kita turun gunung kita harus turun
gunung. Alias menaiki tebing curam seperti saat turun dari plawangan kemarin.
Perjalanan pulang kali ini kami paksakan untuk langsung sampai di basecamp
karena ke esokan harinya kita masih ada trip ke gili trawangan. Alhasil
perjalanan malam di temani bulan purnama sangat menakjubkan. Benar-benar
pengalaman yang tak akan terlupakan. Menuruni gunung melalui sabana di kanan
kiri serta di terangi cahaya bulan. Hanya pujian atas indahnya alam rinjani
yang telah tuhan ciptakan untuk kita semua. Sangat di sayangkan jika kita
sebagai manusia merusaknya.
Tepat jam 0.00 wita kami sampai di jalan aspal lagi, yang
menandakan kita sudah tidak di gunung lagi. Terlihat dari kejauhan puncak
rinjani sedikit tertutup oleh awan putih. Dan terbesit dalam pikiran, gak
nyangka gue bisa berdiri di atas sana kemarin.
Perjalanan panjang yang melelahkan namun terbayar dengan
keindahan yang diberikan rinjani bagi setiap pendakinya. Tidak hanya
pemandangan yang kita dapat. Banyak pengalaman disini yang sangat berkesan dan
yang paling berkesan buat saya adalah, perjalanan ini mengajarkan bagaimana
cara berteman. Mulai bersopan santun dengan pendaki lain hingga di akhirnya
berbuah ikan 10 ekor dan beras 2kg, saling menghargai tiap perbedaan, saling
menjaga dan masih banyak lagi. Bukan hanya untuk sesama manusia tapi bagaimana
kita bisa menghargai alam dan menjaganya.
Tim Puspala : Arif Nur Rohman (2012), Anisa Dianasari
(2012), Adi Wicaksana (2011), Bimandanu Nur Indratma (2012), Happy Ari Setyawan
(2011) Hendri Styawan
Spesial thanks buat mas happy yang sudah ngajak kesini.