Pages

Rabu, 04 September 2013

Rinjani : Dekat di Mata, Jauh di Kaki





Pada pertengahan bulan agustus tahun ini, PUSPALA atau Puspanegara Pecinta Alam mengadakan ekspedisi ke gunung tertinggi nomor tiga di Indonesia. Rinjani, sebuah gunung dengan ketinggian 3726 meter dari permukaan laut yang menjulang tinggi di tengah pulau lombok.
Ekspedisi kali ini dilakukan oleh 4 orang alumni SMA 5 Yogyakarta yang dulunya mengikuti ekskul PUSPALA dan dua orang yang bukan anggota puspala. Sekedar informasi, di PUSPALA meskipun sudah lulus tidak ada kata mantan puspala. Karena selamanya tetap menjadi anggota puspala. 

Perjalanan di mulai pada tanggal 14 agustus 2013 dari stasiun lempuyangan kami melesat menuju stasiun banyuwangi. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi pulau bali dan sampailah di pulau lombok. Sekitar sore hari tanggal 15 agustus 2013 kami tiba di basaecamp pendakian gunung rinjani di kecamatan sembalun.

Di sini kami melakukan registrasi dan menginap semalam di halaman basecamp untuk mempersiapkan fisik guna melakukan pendakian esok harinya.
16 agustus 2013, pendakian di mulai. Kami menarget untuk sampai di pos 3 saja untuk bermalam di sana dengan pertimbangan setelah pos 3 medan yang di lalui cukup berat hingga camp terakhir sebelum puncak. Pendakian menuju pos 3 ini merupakan perjanan terpanas yang pernah kami lakukan. Karena dikanan kiri tidak ada pepohonan yang menutupi jalan. Hanya ada semak belukar sepanjang jalan hingga pos 3.






Ke esokan harinya perjalanan dimulai dari pos 3 menuju plawangan sembalun atau camp terakhir sebelum summit attack. Pendakian gunung mulai terasa beratnya dari titik ini. karena hampir tidak ada jalan landai sampai di plawangan sembalun. Hingga tanjakan terakhir yang sering disebut tanjakan penyesalan membuat kami terseok-seok untuk melewatinya. Sungguh tanjakan yang membuat mental patah. Namun ketika mata melihat ke belakang, seakan mental dan semangat pun tumbuh lagi. Pemandangan luar biasa yang disajikan rinjani membuat semua orang dari penjuru dunia ingin menikmatinya.



Selesai melewati tanjakan penyesalan, sampailah kita di plawangan sembalun. Sebuah tempat yang agak lapang untuk berkemah. Disini ternyata sudah banyak puluhan bahkan ratusan pendaki yang lebih dulu sampai di sini. Mungkin karena hari ini adalah hari kemerdekaan republik ini.

Dini hari kami bangun untuk bersiap melakukan summit attack. Mengingat jalan yang dilalui sangat jauh, karena di plawangan sembalun sendiri ketinggiannya sekitar 2600an meter dan puncak 3726 meter berati kita harus berjalan vertikal kurang lebih 1000 meter untuk sampai di puncak.

Dari punggungan sebelum puncak, terlihat bendera merah putih berkibar dengan gagah di puncaknya. Menambah semangat dan mental yang hampir putus di setiap tanjakan yang seakan mem-php kami. Tanjakan yang kami kira sudah berakhir ternyata masih ada tanjakan yang tertutup oleh bukit-bukit kecil.

Karena sulitnya medan yang harus di daki menuju puncak dan ada seorang anggota kami yang sakit, hanya ada dua orang dari tim Puspala yang berhasil menikmati sunrise di puncak. Pukul 9 wita tanggal 18 agustus 2013 kami bersemua berhasil berkumpul di puncak rinjani, 3726 mdpl. Sebuah pengalaman yang luar biasa bisa berdiri di tanah tertinggi nomor 3 di Indonesia. Terlihat di arah barat Gunung Agung di Bali yang seolah menyambut kedatangan kami. Melihat kebawah, birunya segara anakan siap menyambut di perjalanan pulang. Juga hamparan sabana berwarna hijau laksana karpet yang menutupi kaki gunung rinjani.



Setelah cukup beristirahat, segera kami mengibarkan bendera Puspala di puncak rinjani. Tak lupa kami nyanyikan mars Puspanegara di puncak tertinggi ke 3 ini. kebanggaan luar biasa kami sebagai Puspalawan dan Puspalawati mampu mengibarkan dan menyayikan lagu SMA 5 yogyakarta tercinta kami. Mungkin bukan sebuah prestasi berupa piala ataupun kejuaraan yang dapat kami berikan saat ini.


Tiba-tiba terdengar lagu Indonesia dari dekat bendera, ternyata ada beberapa orang yang mungkin ‘terlambat’ upacara kemerdekaan melakukan upacara sendiri. Mungkin karena jiwa tonti Pascagara masih tertanam di hati penulis, tiba-tiba saja penulis ikut berdiri dan hormat kepada sang merah putih. Dan ini upacara bendera terhebat yang pernah saya ikuti. Benar-benar khidmat meskipun terlambat dan tak berseragam seperti waktu SMA dulu. Menjadi sebuah kebanggan sendiri bisa mengikuti upacara di puncak seperti ini. dengan tulisan PUSPANEGARA di punggung kami menunjukan ke semua orang kalu kami (Puspanegara) pernah di sini. Puncak tertinggi ke 3 di Indonesia (sombong sithik).

Jam 10.30 wita kami turun dari puncak karena sudah terlalu panas di puncak. Perjalanan turun ternyata hanya memakan waktu 2 jam saja. Tidak sebanding dengan sewaktu naik yang membutuhkan waktu 6,5 jam.

Sepanjang jalan kami hanya terkagum-kagum dengan keindahan alam rinjani ini. sebentar-sebentar kami berhenti menikmati keindahan alam yang di ciptakan Tuhan kepada manusia. Dari kejauhan terlihat pesawat terbang melintasi di dekat gunung yang lebih rendah dari kedudukan kami.
Setelah sampai di camp plawangan sembalun, kami segera makan siang dan packing untuk segera turun ke danau segara anakan yang dari atas terlihat sangat mempesona. Perjalanan dari plawangan sembalun menuju segara anakan memakan waktu 4,5 jam menuruni tebing yang lumayan curam dan menembus awan.

Menjelang maghrib akhirnya kami sampai danau segara anakan dan kami segera mendirikan tenda dan segera bersiap untuk mandi air panas di dekat danau. Tapi tiga orang tinggal di tenda dulu untuk bergantian berjaga. Karena kebaikan tetangga sebelah tenda kami dan karena modal sok akrab dengan mereka, kami di beri ikan hasil pancingan mereka tadi siang. Gak tanggung-tanggung kita dikasih 10 ekor. Dan malam ini akhirnya kita bisa makan ikan goreng gratis di gunung.

Di danau kami hanya semalam dan ke esokan paginya setelah selesai foto-foto kami langsung packing dan bersiap turun gunung. Karena pertimbangan waktu akhirnya kami memutuskan untuk kembali melalui jalur sembalun lagi. Jalur sembalun menurut orang sekitar lebih aman untuk perjalanan malam karena tidak melewati hutan.




Di rinjani inilah sebelum kita turun gunung kita harus turun gunung. Alias menaiki tebing curam seperti saat turun dari plawangan kemarin. Perjalanan pulang kali ini kami paksakan untuk langsung sampai di basecamp karena ke esokan harinya kita masih ada trip ke gili trawangan. Alhasil perjalanan malam di temani bulan purnama sangat menakjubkan. Benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan. Menuruni gunung melalui sabana di kanan kiri serta di terangi cahaya bulan. Hanya pujian atas indahnya alam rinjani yang telah tuhan ciptakan untuk kita semua. Sangat di sayangkan jika kita sebagai manusia merusaknya.

Tepat jam 0.00 wita kami sampai di jalan aspal lagi, yang menandakan kita sudah tidak di gunung lagi. Terlihat dari kejauhan puncak rinjani sedikit tertutup oleh awan putih. Dan terbesit dalam pikiran, gak nyangka gue bisa berdiri di atas sana kemarin.

Perjalanan panjang yang melelahkan namun terbayar dengan keindahan yang diberikan rinjani bagi setiap pendakinya. Tidak hanya pemandangan yang kita dapat. Banyak pengalaman disini yang sangat berkesan dan yang paling berkesan buat saya adalah, perjalanan ini mengajarkan bagaimana cara berteman. Mulai bersopan santun dengan pendaki lain hingga di akhirnya berbuah ikan 10 ekor dan beras 2kg, saling menghargai tiap perbedaan, saling menjaga dan masih banyak lagi. Bukan hanya untuk sesama manusia tapi bagaimana kita bisa menghargai alam dan menjaganya.




Tim Puspala : Arif Nur Rohman (2012), Anisa Dianasari (2012), Adi Wicaksana (2011), Bimandanu Nur Indratma (2012), Happy Ari Setyawan (2011) Hendri Styawan

Spesial thanks buat mas happy yang sudah ngajak kesini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar